UPF vs Real Food

Mengapa Dokter Lebih Merekomendasikan Real Food, Bukan Ultra-Processed Food?

Beberapa tahun lalu, makanan olahan atau ultra-processed food (UPF) masih dianggap wajar untuk diberikan kepada anak. Banyak orangtua merasa terbantu karena makanan ini mudah disajikan, praktis, dan sering kali difortifikasi dengan vitamin maupun mineral tambahan. Pada masa itu, perhatian utama dunia kesehatan masih terfokus pada pencegahan kekurangan gizi dan infeksi. Maka, UPF dianggap sebagai solusi yang cukup aman dan membantu memenuhi kebutuhan dasar anak.

Namun, seiring bertambahnya penelitian dan bukti ilmiah, pandangan tersebut mulai berubah. Kini, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi UPF secara berlebihan pada anak dapat berdampak buruk, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Inilah alasan mengapa dokter lebih sering menganjurkan pemberian real food—makanan asli yang minim proses—kepada balita dan anak-anak.

Apa itu real food dan ultra-processed food?

Real food adalah makanan yang berasal langsung dari bahan alami, seperti buah, sayur, daging segar, ikan, telur, susu, kacang-kacangan, atau biji-bijian. Proses pengolahannya sederhana, misalnya direbus, ditumis, atau dipanggang, sehingga kandungan gizinya masih utuh.

Sebaliknya, ultra-processed food (UPF) adalah makanan pabrikan yang melewati proses panjang, banyak tambahan bahan kimia, aditif, pengawet, pemanis, atau perasa buatan. Atau, makanan cepat saji (fast foods) yang dapat dimasak dan disajikan cepat karena bahan-bahannya adalah bahan makanan olahan. Contohnya adalah burger atau ayam goreng dari fast food chain, minuman manis dalam kemasan atau cepat saji, sosis, frozen nugget, biskuit manis, atau sereal sarapan tinggi gula.

Apa yang ditemukan penelitian terbaru?

Studi-studi besar di berbagai negara menemukan bahwa anak yang sering mengonsumsi UPF lebih berisiko mengalami kenaikan berat badan berlebih, bahkan sejak usia dini. Mereka cenderung memiliki lemak tubuh lebih banyak, dan hal ini bisa meningkatkan risiko obesitas di masa depan.

Selain itu, konsumsi UPF juga dikaitkan dengan masalah metabolik, seperti kadar gula darah yang lebih tinggi, profil kolesterol yang kurang baik, hingga tekanan darah meningkat. Anak yang terbiasa dengan makanan seperti ini juga berpotensi kesulitan mengontrol nafsu makan, karena UPF dibuat dengan rasa yang sangat kuat (manis, gurih, asin) sehingga merangsang untuk makan lebih banyak.

Lebih jauh lagi, penelitian juga menunjukkan bahwa snack olahan dan minuman manis bikin kenyang cepat, padahal gizinya minim, sehingga ketika anak kenyang dengan makanan jenis ini, makanan sehat yang seharusnya masuk malah tergantikan. Ada juga kekhawatiran bahwa aditif dan bahan tambahan tertentu bisa memengaruhi kesehatan usus dan keseimbangan mikrobioma, yang penting untuk metabolisme dan daya tahan tubuh. Bahkan, paparan bahan kimia dari kemasan UPF—seperti BPA atau phthalates—ditemukan lebih tinggi pada anak yang banyak mengonsumsi makanan kemasan.

Apa artinya untuk orangtua?

Pesan ini bukan berarti orangtua harus melarang 100% anaknya menyentuh makanan olahan. Sesekali boleh saja, misalnya di acara ulang tahun atau saat bepergian. Namun, yang penting adalah proporsi. Sebisa mungkin, makanan sehari-hari anak tetap didominasi oleh real food yang padat gizi dan mendukung tumbuh kembang optimal.

Sebagai contoh, orangtua bisa menyediakan buah potong atau yoghurt tawar sebagai camilan, mengganti nugget kemasan dengan tahu, tempe, atau telur, atau buat nugget sendiri. Ini cukup mudah, dan orangtua jadi lebih tahu komposisi bahan nugget tersebut. Selain itu, biasakan anak minum air putih ketimbang minuman manis; susu pun pilih yang fullcream, jangan yang berperisa rasa. Perubahan kecil ini, bila dilakukan konsisten, dapat membantu anak tumbuh lebih sehat dan terhindar dari risiko jangka panjang.

  1. Lane MM, Davis JA, Beattie S, et al. (2023). Ultra-processed food exposure and adverse health outcomes: umbrella review of epidemiological meta-analyses. BMJ, 380:e072003.
  2. Khoury N, et al. (2024). Association of Ultra-Processed Food Consumption with Adiposity and Cardiometabolic Risk in Children. JAMA Network Open, 7(2):e240013.
  3. Vitale M, et al. (2023). Ultra-Processed Foods and Human Health: A Systematic Review. Nutrients, 15(5):1179.
  4. Mescoloto SB, et al. (2023). Ultra-processed food consumption and its effects on the health of children and adolescents: a systematic review. Revista Paulista de Pediatria, 41:e2022169.
  5. World Health Organization (2023). Policies to protect children from harmful food marketing. Geneva: WHO.
  6. Monteiro CA, Cannon G, et al. (2019). The NOVA classification of foods: ultra-processed foods, what they are and how to identify them. Public Health Nutrition, 22(5):936–941.
  7. De Siena M, et al. (2022). Food additives and their impact on gut microbiota and health. Nutrients, 14(20):4287.
  8. Panyod S, et al. (2024). Emulsifiers, microbiota, and metabolic health. Current Opinion in Endocrinology, Diabetes and Obesity, 31(2):131–137.
  9. Buckley JP, Kim H, Wong E, et al. (2023). Dietary intake of phthalates and bisphenols in children. Environmental Health Perspectives, 131(2):27002.
TAGS
No tags.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *