5 Mitos Probiotik yang Masih Banyak Dipercaya Orang Tua

Jangan Asal Percaya, Kenali Faktanya Sebelum Memilih Probiotik untuk Si Kecil

Mums & Dads tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah probiotik. Produk yang mengandung probiotik kini semakin mudah ditemukan, mulai dari susu pertumbuhan, yogurt, hingga suplemen. Banyak orang tua percaya bahwa probiotik selalu baik untuk anak dan semakin banyak dikonsumsi akan semakin bermanfaat.

Namun, benarkah demikian?

Faktanya, masih banyak kesalahpahaman mengenai probiotik. Padahal, memahami informasi yang benar dapat membantu orang tua memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan anak, bukan sekadar mengikuti tren atau iklan.

Berikut lima mitos yang paling sering ditemui beserta fakta ilmiahnya.

 

Mitos #1

“Semua probiotik itu sama.”

Fakta: Tidak benar.

Tidak semua probiotik memiliki manfaat yang sama.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang, bila diberikan dalam jumlah yang cukup, memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh. Namun, manfaat tersebut bergantung pada strain probiotik yang digunakan.

Sebagai contoh:

  • Lacticaseibacillus rhamnosus GG (LGG) memiliki bukti ilmiah yang baik untuk membantu mencegah diare akibat antibiotik pada anak.
  • Saccharomyces boulardii CNCM I-745 banyak diteliti untuk membantu memperpendek durasi diare akut.
  • Limosilactobacillus reuteri DSM 17938 memiliki bukti manfaat pada kolik bayi tertentu.

Meskipun sama-sama disebut “probiotik”, setiap strain memiliki manfaat yang berbeda dan tidak dapat saling menggantikan.

Intinya: Jangan hanya melihat nama bakterinya, tetapi juga nama strain-nya.

 

Mitos #2

“Semakin banyak CFU, semakin bagus.”

Fakta: Belum tentu.

CFU (Colony Forming Units) menunjukkan jumlah mikroorganisme hidup dalam suatu produk.

Namun, jumlah yang lebih besar tidak selalu berarti lebih efektif. Efektivitas suatu probiotik ditentukan oleh beberapa hal, antara lain:

  • strain yang digunakan,
  • dosis yang telah diteliti,
  • kondisi kesehatan yang ingin ditangani.

Sebuah produk dengan 1 miliar CFU dari strain yang tepat dapat memberikan manfaat yang lebih baik dibandingkan produk dengan 20 miliar CFU tetapi menggunakan strain yang belum memiliki bukti ilmiah untuk kondisi tersebut.

 

Mitos #3

“Semua anak perlu minum probiotik setiap hari.”

Fakta: Belum tentu.

Sebagian besar anak sehat tidak memerlukan suplemen probiotik setiap hari.

Anak dengan pola makan bergizi seimbang yang kaya buah, sayur, kacang-kacangan, serta makanan fermentasi dapat membantu menjaga kesehatan saluran cerna dan mikrobiota usus.

Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan probiotik, misalnya:

  • diare akut,
  • pencegahan diare akibat antibiotik,
  • beberapa kasus kolik bayi,
  • atau kondisi tertentu lainnya yang memang memiliki bukti ilmiah.

Karena itu, pemberian probiotik sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.

 

Mitos #4

“Kalau anak sudah minum susu yang mengandung probiotik, berarti tidak perlu suplemen probiotik.”

Fakta: Belum tentu.

Banyak susu pertumbuhan saat ini mengandung probiotik sebagai bagian dari komposisi produknya.

Yang perlu dipahami, klaim manfaat suatu produk seharusnya didukung oleh penelitian terhadap strain probiotik yang digunakan, serta jumlah bakteri hidup (CFU) yang sesuai dengan hasil penelitian tersebut.

Di sisi lain, dokter dapat memberikan suplemen probiotik bila anak mengalami kondisi tertentu. Suplemen tersebut biasanya menggunakan strain dan dosis yang telah diteliti untuk tujuan kesehatan tertentu.

Jadi, anak yang mengonsumsi susu yang mengandung probiotik tidak otomatis berarti tidak akan pernah memerlukan suplemen probiotik. Sebaliknya, tidak semua anak yang minum susu tersebut juga membutuhkan suplemen tambahan.

Keputusan tersebut bergantung pada kondisi anak dan pertimbangan dokter.

 

Mitos #5

“Semua gangguan pencernaan bisa diatasi dengan probiotik.”

Fakta: Tidak benar.

Probiotik bukanlah obat untuk semua masalah pencernaan.

Hingga saat ini, manfaat probiotik didukung oleh bukti ilmiah hanya pada kondisi tertentu, dan tidak semua strain efektif untuk setiap penyakit.

Karena itu, apabila anak mengalami keluhan yang berat, berulang, atau tidak membaik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Bagaimana Memilih Probiotik untuk Anak?

Sebelum membeli produk probiotik, Mums & Dads dapat memperhatikan beberapa hal berikut.

✅ Apakah nama strain probiotiknya tercantum dengan jelas?

✅ Apakah manfaat yang diklaim memang didukung oleh penelitian pada strain tersebut?

✅ Apakah jumlah CFU sesuai dengan dosis yang digunakan dalam penelitian?

✅ Apakah produk tersebut memang diperlukan sesuai kondisi anak?

Memilih probiotik tidak cukup hanya melihat tulisan “mengandung probiotik” pada kemasan. Yang lebih penting adalah memilih strain yang tepat untuk kondisi yang tepat.

 

Kesimpulan

Probiotik dapat memberikan manfaat bagi kesehatan anak, tetapi tidak semua probiotik memiliki manfaat yang sama.

Efektivitas probiotik bergantung pada strain, jumlah yang diberikan, serta kondisi kesehatan yang ingin ditangani. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak memilih produk hanya berdasarkan iklan atau label “mengandung probiotik”, melainkan memahami bukti ilmiah yang mendukung penggunaannya.

Dengan memahami fakta-fakta ini, Mums & Dads dapat mengambil keputusan yang lebih tepat untuk mendukung kesehatan saluran cerna dan tumbuh kembang Si Kecil.

  1. Hill C, Guarner F, Reid G, Gibson GR, Merenstein DJ, Pot B, et al. Expert consensus document: The International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics consensus statement on the scope and appropriate use of the term probiotic. Nat Rev Gastroenterol Hepatol. 2014;11(8):506-14.
  2. Szajewska H, Canani RB, Domellöf M, Guarino A, Hojsak I, Indrio F, et al. Probiotics for the Management of Pediatric Gastrointestinal Disorders: Position Paper of the ESPGHAN Special Interest Group on Gut Microbiota and Modifications. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2023;76(2):232-247.
  3. World Gastroenterology Organisation. WGO Global Guidelines: Probiotics and Prebiotics. Milwaukee (WI): World Gastroenterology Organisation; 2023.
  4. Hojsak I, Fabiano V, Pop TL, Goulet O, Zuccotti GV, Çokuğraş FC, et al. Guidance on the use of probiotics for the prevention of antibiotic-associated diarrhea in children. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2018.
  5. Sanders ME, Merenstein DJ, Reid G, Gibson GR, Rastall RA. Probiotics and prebiotics in intestinal health and disease: From biology to the clinic. Nat Rev Gastroenterol Hepatol.

 

TAGS
No tags.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *