Anak Sering Duduk Posisi W? Jangan Langsung Panik, Tapi Jangan Diabaikan

Pernah melihat si kecil duduk dengan kedua lutut menghadap ke depan, sementara kedua kaki berada di samping tubuh hingga membentuk huruf “W”?

Posisi ini dikenal sebagai W-sitting atau duduk posisi W.

Banyak orang tua khawatir bahwa posisi ini dapat menyebabkan kerusakan sendi pinggul atau membuat bentuk kaki menjadi tidak normal. Di sisi lain, ada juga yang menganggap posisi ini tidak perlu diperhatikan sama sekali.

Lalu, sebenarnya bagaimana fakta ilmiahnya?

Apa Itu Duduk Posisi W?

Duduk posisi W adalah posisi ketika anak duduk di lantai dengan:

  • kedua lutut berada di depan tubuh,
  • kedua kaki berada di sisi kanan dan kiri pinggul,
  • jika dilihat dari atas tampak menyerupai huruf W.

Posisi ini paling sering ditemukan pada anak usia sekitar 2–4 tahun, meskipun dapat juga terlihat pada anak yang lebih kecil atau lebih besar.

Mengapa Banyak Anak Menyukai Posisi Ini?

Posisi W memberikan dasar tumpuan yang sangat stabil.

Dengan posisi ini, anak tidak mudah kehilangan keseimbangan saat bermain sehingga merasa lebih nyaman.

Pada beberapa anak, terutama yang memiliki kelenturan sendi (joint laxity) lebih baik, posisi ini juga terasa lebih mudah dibandingkan duduk bersila.

Apakah Duduk Posisi W Berbahaya?

Inilah bagian yang sering disalahpahami.

Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa belum ada bukti kuat yang menyatakan duduk posisi W menyebabkan kerusakan sendi pinggul, displasia panggul, atau kelainan bentuk tungkai pada anak yang berkembang normal.

Sebuah systematic review yang diterbitkan pada tahun 2024 menyimpulkan bahwa penelitian yang ada hingga saat ini belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat antara duduk posisi W dengan gangguan ortopedi pada anak.

Artinya, sesekali duduk posisi W umumnya masih dianggap normal.

Namun demikian, bukan berarti orang tua boleh membiarkan posisi ini menjadi kebiasaan.

Mengapa Duduk Posisi W Tidak Dianjurkan Menjadi Kebiasaan?

Walaupun belum terbukti menyebabkan kerusakan sendi, posisi W memberikan tubuh tumpuan yang sangat stabil.

Akibatnya, anak mungkin memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk melatih:

  • keseimbangan,
  • rotasi batang tubuh,
  • kontrol postur,
  • perpindahan berat badan saat bermain,

dibandingkan bila menggunakan variasi posisi duduk lainnya.

Karena itulah banyak fisioterapis anak menganjurkan agar anak dibiasakan menggunakan berbagai posisi duduk, bukan hanya posisi W.

Posisi Duduk yang Lebih Dianjurkan

Agar perkembangan motorik lebih optimal, orang tua dapat mengajak anak bergantian menggunakan beberapa posisi berikut.

  1. Duduk Bersila (Cross-legged Sitting)
    Posisi ini membantu anak lebih aktif menjaga keseimbangan serta memberi kesempatan lebih besar untuk melakukan rotasi batang tubuh saat bermain.
  2. Duduk Menyamping (Side Sitting)
    Pada posisi ini kedua kaki berada di satu sisi tubuh. Posisi ini juga membantu anak berlatih memindahkan berat badan dan mengembangkan kontrol postur.
  3. Duduk dengan Kaki Lurus (Long Sitting)
    Posisi ini baik untuk melatih postur tubuh dan memberikan variasi posisi saat anak bermain di lantai.
    Semakin banyak variasi posisi duduk yang digunakan, semakin beragam pula pengalaman gerak yang diperoleh anak.

Bagaimana Cara Mengoreksi Anak?

Jika melihat anak duduk posisi W, tidak perlu langsung memarahi atau melarang dengan keras
Sebaliknya, koreksi dengan lembut.
Misalnya dengan mengatakan, “Yuk, kita betulkan kakinya.

Kemudian bantu anak berpindah ke posisi:

  • bersila,
  • menyamping,
  • atau kaki lurus ke depan.

Lakukan secara konsisten setiap kali posisi W muncul.

Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter anak atau fisioterapis apabila anak:

  • hampir selalu duduk posisi W,
  • sulit duduk dalam posisi lain,
  • mengalami keterlambatan perkembangan motorik,
  • sering berjalan jinjit,
  • sering jatuh,
  • memiliki pola berjalan yang tampak tidak biasa,
  • atau memiliki penyakit yang memengaruhi tonus otot maupun sendi.

Pada kondisi-kondisi tersebut, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui apakah terdapat gangguan perkembangan atau masalah ortopedi yang mendasari.

Kesimpulan

Duduk posisi W sesekali umumnya masih termasuk normal pada anak yang berkembang normal.

Namun, bila posisi ini menjadi kebiasaan, orang tua sebaiknya mulai membiasakan anak menggunakan variasi posisi duduk lain agar kesempatan untuk melatih keseimbangan, kontrol postur, dan koordinasi gerak menjadi lebih optimal.

Yang terpenting bukan melarang posisi W sepenuhnya, melainkan memberikan anak pengalaman bergerak yang beragam melalui aktivitas bermain setiap hari.

  1. Nordon DG, Passone CGB, da Silva CAA, Grangeiro PM. W-sitting in childhood: a systematic review. Acta Ortop Bras. 2024;32(6):e279277. doi:10.1590/1413-785220243206e279277.
  2. Rethlefsen SA, Mueske NM, Nazareth A, Abousamra O, Wren TAL, Kay RM, et al. Hip dysplasia is not more common in W-sitters. Clin Pediatr (Phila). 2020;59(11):1048–1052. doi:10.1177/0009922820940810.
  3. Sankar WN, Weiss J, Skaggs DL. Pediatric orthopedic mythbusters: the truth about flexible flatfeet, tibial and femoral torsion, W-sitting, and idiopathic toe-walking. Curr Opin Pediatr. 2020;32(1):92–97. doi:10.1097/MOP.0000000000000857.
  4. International Hip Dysplasia Institute. W-Sitting and Hip Development. Available from: https://hipdysplasia.org/w-sitting-and-hip-development/
  5. CanChild Centre for Childhood Disability Research. W-Sitting: Is It Really a Problem? McMaster University. Available from: https://www.canchild.ca
TAGS
No tags.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *